Thursday, 13 Aug 2020

Sering Marah Bisa Membuat Paru-paru Menua

Anda gampang marah-marah? Setiap ada yang membuat emosi memuncak, sebaiknya tahan amarah, ambil nafas panjang, dan buang emosi negatif tersebut, demi kesehatan Anda.

Selama ini, emosi tak terkendali biasa dikaitkan dengan tekanan darah tinggi. Ternyata, menahan amarah juga berkolerasi dengan kesehatan paru-paru. Penelitian membuktikan, sering marah-marah membuat paru-paru menua lebih cepat. “Dampak emosi tinggi terhadap kesehatan paru-paru layak diteliti lebih lanjut,” kata Laura Kubzansky, pakar kesehatan paru-paru, seperti ditulis jurnal kedokteran, Thorax.

Riset tentang Emosi dan Kesehatan Paru-paru

Kubzansky dan rekan-rekannya dari Harvard School of Public Health, Boston, Amerika Serikat, meneliti 670 orang selama sekitar delapan tahun. Saat riset dimulai, mereka berusia 45-86 tahun. Para responden itu diminta menjawab 50 pertanyaan yang melibatkan emosi. Misalnya pertanyaan yang menyangkut kecurigaan, ketidakpercayaan, sinisme, kebencian, dan sebagainya. Semakin tinggi skor para responden, maka semakin mudah terbakar emosi mereka. Hasilnya antara 7-37, dengan nilai rata-rata 18,5. Hanya kurang dari sepertiga responden yang tergolong cepat marah.

Berikutnya, para responden menjalani pemeriksaan paru-paru. Pemeriksaan diulang 3-5 tahun berikutnya.

Hasilnya, pemeriksaan awal menunjukkan, responden yang tergolong cepat marah memiliki tingkat kesehatan jantung paling rendah. Pada pemeriksaan berikutnya, didapati paru-paru kelompok yang mudah emosi, memburuk lebih cepat ketimbang kelompok dengan kesabaran tinggi. Menurut para peneliti, fungsi jantung memang menurun seiring usia. Namun, penurunan terjadi lebih cepat pada orang yang mudah marah. Kemarahan juga berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler dan asma.

Menurut Kubzansky dan rekan-rekannya, penurunan fungsi paru-paru itu kemungkinan terjadi akibat perubahan hormon dan kerja saraf yang mengganggu sistem imun, serta memicu peradangan.

Dibutuhkan Riset Lanjutan

Para peneliti juga menemukan fakta bahwa kelompok responden cepat marah itu punya kecenderungan merokok lebih tinggi, dibanding kelompok lain. Namun, percepatan penurunan fungsi paru-paru tidak terkait efek buruk rokok tersebut.

Seperti yang dikatakan Kubzansky, penelitian ini baru tahap awal dan butuh riset lebih mendalam. Temuan mereka belum menguak fakta tentang dampak emosi tinggi terhadap kerusakan paru-paru. Lebih lanjut, penelitian hanya berdasarkan pada penentuan tingkat emosi lewat satu daftar pertanyaan. Sehingga, penelitian ini tidak merekam naik-turunnya tingkat emosi responden di waktu-waktu berikutnya. Penelitian ini juga hanya dilakukan pada kelompok orang kaukasian dan tinggal di Boston, Amerika Serikat dan sekitarnya.

Kemarahan Bisa Berdampak Positif

Paul Lehrer dari University of Medicine and Dentistry of New Jersey, New Jersey, Amerika Serikat, menjawab kelemahan tersebut. Menurut dia, setiap orang pasti pernah merasa marah. Penelitian psikologis pada 2005 menyatakan, kemarahan dengan tingkat moderat yang berlangsung singkat, justru berdampak positif, karena meningkatkan optimisme. Namun, yang menjadi masalah adalah kemarahan yang kronis. Meski belum ada pembuktian ilmiah soal korelasi emosi dan kesehatan paru-paru, Lehrer melanjutkan, kemarahan kronis bisa menyebabkan disregulasi dan kerusakan fisik. Maka, tak heran jika ada organ tubuh yang ikut terganggu. Penelitian ini sejalan dengan riset sebelumnya yang menyatakan pertengkaran dan kekerasan rumah tangga membuat penyembuhan luka fisik lebih lambat dari semestinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *