Thursday, 13 Aug 2020

Inilah Cara Menghindarkan Diri dari Vaksin Palsu

Beberapa waktu lalu sempat gempar peredaran vaksin palsu. Hal ini tentu sangat meresahkan, terutama bagi para orang tua yang akan melakukan vaksinasi untuk anak-anaknya. 

Menerima vaksin palsu artinya melewatkan jadwal pemberian imunisasi yang sebenarnya. Vaksin palsu yang tidak memiliki kandungan vaksin sebagaimana mestinya membuat anak kehilangan manfaat dari vaksin itu sendiri. Terlebih lagi, anak jadi kehilangan kesempatan memperoleh manfaat perlindungan vaksin yang seharusnya didapat dari menjalani prosedur imunisasi tersebut.

Kandungan vaksin palsu dan dampaknya bagi tubuh

Vaksin yang asli mengandung antigen yang dilemahkan. Ketika masuk ke dalam tubuh, antigen tersebut akan merangsang terbentuknya sistem kekebalan tubuh alami yang spesifik untuk melawan antigen tersebut. 

Nah, vaksin palsu tidak mengandung antigen. Sehingga antibodi tidak akan terbentuk di dalam tubuh dan prosedur imunisasi pun kehilangan esensinya.

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh BPOM, berikut ini zat-zat yang terkandung di dalam vaksin palsu:

Cairan infus, umumnya cairan infus berisi gula dan elektrolit.

Pelarut vaksin, sebagian vaksin berisi cairan pelarut atau aqua pro injection. Cairan ini pada dasarnya aman bagi tubuh.

Antibiotik gentamisin, pada beberapa produk vaksin BPOM menemukan antibiotik gentamisin. Umumnya, antibiotik ini ditemukan dalam produk obat tetes mata, obat tetes telinga, maupun produk topikal lainnya.

Karena rendahnya dosis yang dimasukkan ke dalam tubuh, pemerintah dan instansi kesehatan terkait mengklaim bahwa dampaknya bagi tubuh sangat minimal. Antibiotik gentamisin yang terdapat di dalam vaksin palsu, paling banyak berjumlah 20 mg. Sebagian masih akan dibuang oleh ginjal. 

Dalam penggunaan jangka panjang, gentamisin memang dapat menimbulkan gangguan pada ginjal serta gangguan pendengaran. Namun, hal tersebut hanya terjadi apabila dosis yang diberikan sangat tinggi. Mengingat dosis gentamisin dalam vaksin palsu tersebut sangat kecil, diduga efek jangka panjangnya pun tidak signifikan.

Meski demikian, tetap ada risiko jangka pendek yang mungkin timbul dari penyuntikan cairan infus dalam vaksin palsu tersebut. Reaksi alergi mungkin terjadi akibat proses pembuatan yang tidak higienis. 

Cara menghindari vaksin palsu

Kementerian Kesehatan RI menjamin keaslian vaksin yang didistribusikan melalui instansi pemerintah. Oleh karenanya, salah satu upaya menghindari vaksin palsu adalah dengan menjalani proses vaksinasi di sarana pelayanan kesehatan pemerintah, seperti Posyandu, Puskesmas, atau rumah sakit pemerintah. 

Namun, Anda juga dapat memastikan keaslian vaksin dengan melakukan langkah-langkah di bawah ini:

  1. Memeriksa bersama dokter

Sebelum putra atau putri Anda menerima vaksin, Anda boleh meminta dokter untuk memeriksa tanggal kedaluwarsa vaksin, wadah dan keutuhan segel vaksin, keaslian label, penanda suhu, serta bentuk fisik vaksin. 

Ada atau tidaknya endapan, warna, serta kejernihan dapat menjadi penanda suatu vaksin palsu atau tidak. Di samping itu, izin edar vaksin juga dapat diperiksa di situs resmi milik BPOM.  

  1. Amati reaksi tubuh

Setelah menjalani proses vaksinasi, amati reaksi tubuh anak Anda. Segera bawa si kecil ke dokter apabila muncul reaksi yang mengkhawatirkan. 

  1. Lapor kepada BPOM

Anda juga dapat melapor langsung ke instansi kesehatan terkait. Anda dapat terhubung dengan BPOM melalui hotline 1500533 atau 1500567 untuk terhubung dengan Kementrian Kesehatan. Jangan lupa untuk menekan kode area terlebih dahulu sebelum menekan nomor hotline tersebut.

Apabila anak Anda terlanjur menerima vaksin palsu, buatlah laporan kepada satuan tugas penanganan vaksin palsu. Setelah laporan Anda diverifikasi, putra atau putri Anda akan diberikan vaksin ulang secara gratis di pelayanan kesehatan rujukan Dinas Kesehatan Provinsi setempat.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *