Wednesday, 23 Sep 2020

Benarkan Telur Infertil Tidak Boleh Dikonsumsi?

Telur adalah salah satu bahan pangan bernutrisi tinggi yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, salah satunya di Indonesia. Baru-baru ini, beredar juga telur infertil yang dijual di pasaran. Hal ini pun membuat masyarakat menjadi was-was. Isunya, telur infertil ini tidak boleh dikonsumsi, karena memiliki efek yang buruk untuk kesehatan. Kira-kira, apa benar seperti itu? Cek faktanya di sini, yuk!

Penjelasan tentang telur infertil.

Telur infertil merupakan telur yang diproses tanpa melalui pembuahan oleh ayam pejantan. Dengan kata lain, telur infertil adalah telur yang hanya mengandung materi genetik dari ayam betina, sehingga tidak akan bisa menetas menjadi anak ayam. Berbeda dengan telur fertil yang mengandung kedua materi genetik ayam jantan dan ayam betina, sehingga bisa menetas jadi anak ayam.

Pada dasarnya, telur infertil memiliki kandungan gizi yang sama dengan telur fertil. Telur infertil berasal dari industri penetasan yang tujuan awalnya untuk ditetaskan. Akan tetapi, telur tersebut tidak terdeteksi sebagai telur infertil saat dilakukan pemeriksaan candling, sehingga lolos ke tahap berikutnya, yaitu proses pengeraman di dalam mesin penetas.

Apakah telur infertil bisa dikonsumsi?

Biasanya, telur infertil diafkirkan kepada penduduk yang membutuhkan yang berada di sekitar lokasi industri penetasan telur. Dengan syarat, masyarakat diberitahu bahwa telur infertil ini tidak dapat bertahan lama, paling lama hanya satu minggu penyimpanan. Namun, banyak juga pedagang yang menjual telur infertil kepada masyarakat secara bebas. Ini dikarenakan persediaan telur infertil yang cukup tinggi dalam suatu industri, yaitu bisa mencapai 26,7% dari keseluruhan telur yang ditetaskan oleh mesin. Harga yang ditawarkan pun cenderung lebih murah dibandingkan telur ayam biasa.

Menurut Amaliah et al. (2017) dalam Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan, telur infertil boleh dikonsumsi, namun terbatas hanya sebagai bahan pengolahan lanjutan, seperti kue kering, mayonais, es krim, dan kue sponge, karena komponen kuning dan putih telurnya menyatu. Jadi, selama proses pengolahan makanan tidak memerlukan pemisahan komponen kuning dan putih telur, telur infertil layak dikonsumsi.

Cara mendeteksi telur infertil.

Saat dilakukan pemeriksaan candling, pada telur infertil tidak akan terlihat serat pembuluh darah seperti halnya pada telur fertil. Hal inilah yang menunjukkan tidak adanya perkembangan embrio di dalam telur infertil. Pengecekan telur infertil seharusnya dilakukan sejak dini, agar dapat dimanfaatkan sebelum melalui proses penetasan yang semakin mempercepat masa simpannya.

Untuk Anda yang menyimpan persediaan telur dirumah dan khawatir apakah telur ini masih layak dikonsumsi atau tidak, bisa dilakukan pemeriksaan telur dengan cara menenggelamkannya ke dalam wadah yang diisi air. Jika telur tenggelam, maka kualitas telur masih dalam kondisi baik. Namun, jika telur mengapung, maka dapat dikatakan telur sudah tidak layak untuk dikonsumsi.

Apa kata ahli gizi mengenai telur infertil ini?

Menurut Dwi Budiningsari, seorang dosen ilmu gizi dari Universitas Gajah Mada menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan adanya perbedaan kandungan gizi antara telur ayam infertil dengan telur ayam fertil. Keduanya sama-sama mengandung berbagai vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, yaitu vitamin A, B, D, dan E, serta zat besi, fosfor, selenium, dan asam amino lengkap untuk kesehatan tubuh.

Selama kualitas mutu telur masih baik, yang dapat dilihat busuk atau tidaknya telur, maka telur infertil aman dikonsumsi. Penting untuk diketahui, masa simpan telur infertil juga jauh lebih singkat dibandingkan telur fertil. Telur infertil hanya mampu bertahan hingga 7 hari, sedangkan telur fertil dapat bertahan hingga 30 hari penyimpanan di suhu ruang. Jadi, jangan sampai menyimpan telur infertil lebih dari seminggu, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *